Latest Updates

Obat Tradisional Untuk Mengobati Kencing Batu

Obat Tradisional Untuk Mengobati Kencing Batu
Air minum yang banyak mengandung zat kapur seringkali menjadi penyebab timbulnya penyakit kencing batu. Selain itu, penyakit ini bisa juga diakibatkan oleh kebiasaan buruk yang seharusnya tidak kita lakukan, yaitu menahan rasa ingin kencing. Bila hal ini sering kita lakukan, maka kotoran-kotoran yang terdapat dalam kandung kemih akan mengendap dan akhirnya mengeras atau mengkristal menjadi batu yang bisa menyumbat jalannya air kencing.

Sedangkan cara untuk menyembuhkannya adalah dengan menggunakan resep berikut:
a. 1 genggam daun kreci beling.
b. Beberapa lembar daun remujang atau daun kumis kucing,
c. 1 genggam daun meniran

Cara membuat ramuannya :
1. Cucilah ketiga macam bahan di atas sampai bersih, lalu rebus de­ngan air sebanyak 3 gelas.
2. Bila sudah mendidih. biarkan saja sampai airnya menyusut kira-kira tinggai 1 geias.
3. Setelah itu dinginkan, dan minumlah ramuan ini secara rutin setiap hari 3 kali. Bila Anda tekun melakukannya, Insya Allah batu yang
menyumbat jaiannya air kencing tersebut akan hancur, sehingga air kencing Anda akan lancar.

Burung-Madu Kelapa ( Anthreptes malacensis )


Berukuran sedang (13 cm), berwarna-warni. Jantan: mahkota dan punggung hijau bersinar; tunggir, penutup sayap, ekor, dan setrip kumis ungu bersinar; pipi, dagu, dan tenggirokan coklat tua buram, bagian lain pada tubuh bagian bawah kuning. Betina: tubuh bagian atas hijau-zaitun, tubuh bagian bawah kuning muda.
Iris merah, paruh hitam, kaki hitam abu-abu.

Suara:

Kerikan bernada tinggi: “kelicap, twiit-twiit-twiit” atau lagu sederhana “wi-ciuw, wi-chiuw ...” yang diulangi terus-menerus.
Penyebaran global:Asia tenggara, Filipina, Semenanjung Malaysia, Sunda Besar dan Nusa Tenggara, dan Sulawesi.

Penyebaran lokal:
Burung dataran rendah yang tersebar luas dan umum sampai ketinggian 1.200 m, di seluruh Sunda Besar (termasuk pulau-pulau kecil di sekitarnya).

Kebiasaan:

Umumnya sama dengan Burung-madu Sriganti, penetap yang dikenal baik di pekarangan terbuka, perkebunan kelapa, semak pantai, dan hutan mangrove. Bersifat teritorial secara agresif, mengusir burung-madu lain dari pohon sumber makanan yang disukainya, seperti Loranthus, Musa, dan Hybiscus.




Makanan :

Nektar bunga yang berbentuk terompet pada benalu, pisang, kenbang sepatu. Juga memakan serangga, ulat, laba-laba, dan buah yang lembut.

Perkembangbiakan :


Telur 2 butir diletakkan dalam sarang yang tergantung, berbentuk kantung terbuat dari serat rumput yang dijalin dengan sarang laba-laba dan dilapisi dengan kapas rumput. Berbiak sepanjang tahun


Pijantung Besar ( Arachnothera robusta )

Pijantung Besar ( Arachnothera robusta )
Berukuran besar (21 cm), dengan paruh tebal berwarna zaitun dan kuning. Tubuh bagian atas zaitun, tubuh bagian bawah kuning. Kerongkongan dan dada bergaris gelap. Ciri khas: berukuran besar, paruh tebal, tidak terdapat bercak di bagian pipi, tidak ada lingkaran mata, dan dagu berwarna putih. Ekor berwarna gelap dengan ujung putih.Iris coklat, paruh hitam, dan kaki coklat.
Suara:
Decit tinggi cit-cit cit-cit pada waktu terbang, atau keras monoton ciu-liut ciu-liut dari pohon tempat bertengger yang tinggi.

Penyebaran global
Malaysia, dan Sunda Besar.


Penyebaran lokal:

Burung yang jarang ditemui di hutan perbukitan di Sumatra dan Jawa, biasanya pada ketinggian 400-1400 m. Burung yang langka di hutan dataran rndah Kalimantan.

Kebiasaan:
Mirip pijantung yang lain. Burung yang soliter dan agresif mengejar burung pijantung lain keluar dari teretorinya. Hinggap di dahan yang tinggi sambil bernyanyi.

Makanan:
Laba-laba dan serangga, termasuk belalang sembah dan ulat tawon bambu.

Perkembangbiakan:
Sarang panjang (± 30 cm) berbentuk rongga berserat melekat pada bagian bawah dari lebar daun pisang atau daun yang serupa. Telur 2 butir berwarna putih dengan coretan halus hitam membentuk garis pada bagian telur yang terlebar. Di Jawa tercatat berbiak pada bulan April, Juni, dan Agustus.


Pijantung Tasmak ( Arachnothera flavigaster )

Pijantung Tasmak ( Arachnothera flavigaster  )


Berukuran besar (21 cm), berwarna zaitun, penutup telinga dan lingkar mata kuning. Perbedaan dengan Pijantung Telinga-kuning: ukuran lebih besar, paruh lebih pendek, penutup telinga lebih kecil, lingkar mata lebih lebar, garis pada dada dan tenggorokan lebih sedikit.
Iris coklat, paruh hitam, kaki coklat kekuningan.


Suara:
Nada tinggi “chit chit”.Penyebaran global:
Semenanjung Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan.




Penyebaran lokal:
Burung yang tidak umum di hutan terbuka Sumatra dan Kalimantan. Juga dapat ditemui di perkebunan kelapa, kebun pedesaan, dan belukar sampai pada ketinggian 1300 m. Di Kalimantan masih dapat ditemui sampai pada ketinggian 1800 m.

Kebiasaan:
Secara umum dapat ditemui di hutan sekunder. Sangat agresif dalam mempertahankan teretori mencari makan.

Menyambung dan mengobati kaki burung yang patah

Mungkin Anda belum pernah mengalami kejadian yang menyedihkan ini, yakni burung Anda mengalami patah tulang dan berdarah-darah. Meski kita tidak berharap hal itu terjadi, namun ada baiknya kita mengetahui bagaimana cara menyambung kaki burung yang patah.
Salah satu caranya pernah dibahas di halaman OmKicau.Com, yakni Menyambung kaki burung yang patah. Namun di sini saya akan sharring cara penyambungan cara lain.
Cara ini pernah dibahas salah seorang kawan di forum kicaumania.org. Nah berikut ini adalah hal-hal yang perlu Anda siapkan: bahan pengobatan, lem kayu putih (beli di toko bangunan), tisu (tisu gulung lebih baik), lidi bambu atau tusuk gigi.
Coba perhatikan gambar burung kenari yang patah kakinya dan berdarah ini:

Kaki kenari patah dan berdarah

Nah, cobalah diolesi dengan antispetik, bisa betadine atau bisa juga BirdCream (produk Om Kicau) yang memang khusus untuk pengobatan luka lama dan baru. Setelah itu luruskan bagian tulang yang patah dan dibalut dengan gips tisu.
Caranya, balut selapis dengan tisu yang dipotong kecil seukuran panjang kaki, kemudian diolesi lem kayu; lantas tempelkan lidi bambu kecil untuk menjaga kaki yang patah menjadi lurus. Setelah itu  balut lagi dengan tisu. Lakukan hal itu sampai 4-5 lapis.
Setelah selesai, burung tetap dipegang sampai lem kering.
Langkah-langkah di atas bisa dilihat dari foto di bawah ini:
Kaki kenari yang patah dibalut dengan tisu





Atau seperti ini:

Kalau lem telah kering, lepaskan burung kenari di sangkar dan usahakan bagian bawah sangkar diberi lapisan rerumputan atau potongan-potongan kertas untuk menghindari kaki burung tersangkut-sangkut jeruji dasar sangkar. Inilah burung yang selesai ditreatmen:
Kenari yang kakinya patah telah selesai dibalut
Oke sobat, simpan saja artikel ini, siapa tahu suatu saat nanti Anda atau teman Anda memerlukannya. Salam sukses.

HELLO IN THERE!

As of late you will more often than not find me like this.


Okay maybe not exactly like this given the red denim of it all, but pretty close to it. Chris snapped this iPhone one a couple weekends ago on a dreary Saturday when I was deep in thought over a frustrating situation. The kind I'd like to splash hot tea on. You know how those go. Or maybe I'm a sole splasher?

Dealing with people who are in the box is tough.

In the box is a scary place to be. Having a pretty narrow view, primarily out of fear, but then exercising that narrow view from a place of authority in order to try and suck others--especially those living their lives with a degree of freedom--into that box because misery loves company. If you are someone who is a free spirit then you know how your liberty disturbs people in the box.

It makes them angry.

They want to choke you with your red pants.

By not giving in to their power trips and fear tactics, you continually disprove their theory that life inside the box is where it's at and life outside the box is for 'those wingnuts'. It's scary for them. In truth, you scare them. Because the truth is, deep inside, they already hate that damn box anyway. THEY WANT OUT!

I'm dealing with a resident of boxville. Mostly I'd like to throttle this person, but now that I'm ahem of a certain age I would also like to help in, what I believe may be, the beginning of this person's journey out of boxdom. Change begins with discomfort. Instead of flipping the bird and strolling off (which may end up happening anyway), I'm trying to accept what may be my role as an agent of change.

Truth? I don't feel like it.

I'd rather wave my freedom flag and march off into the sunset. I may or may not holler over my shoulder, 'Enjoy your box!'. It would all depend on how self-righteous I was feeling that day. That last part is why I'm trying to change. Everyone deserves a hand up. And maybe there's something I need to see about myself in all this, too.

I think about it a lot. How am I conducting myself in the face of negativity? How am I safeguarding myself against feelings of bitterness? How am I fairly holding this person accountable without taking my feelings of 'WTF is wrong with you?!' out on them. It's a fine line I tell ya.

I might need another pair of colored jeans for this one. Or at least a fringe bag.
INFO BURUNG KICAUAN. Powered by Blogger.